GURU YANG BAIK JAUH LEBIH PENTING DARIPADA MATERI PELAJARAN
DAN METODE PENGAJARANNYA
Sangat
penting untuk diketahui berikut adalah informasi terbaru infokemendikbud.com
tentang metode mengajar itu tak kalah penting dari materi yang hendak
diajarkan. Namun guru yang baik jauh lebih penting daripada materi pelajaran
dan metode pengajarannya.
SEWAKTU
belajar pada pesantren, ada ungkapan kiai yang selalu saya ingat. Menurutnya,
metode mengajar itu tidak kalah krusial dari materi yg hendak diajarkan. Tetapi
guru yang baik jauh lebih penting daripada bahan ajar dan metode pengajarannya.
Jadi sosok pengajar adalah aktor terpenting bagi suksesnya sebuah proses
pembelajaran dan pendidikan.
Guru
bagaikan aktor atau aktris yang setiap hari tampil untuk dilihat, didengarkan,
dan ditiru tutur ucapnya. Makanya sebaik apa pun konsep kurikulum yg didapatkan
pemerintah, kalau kualitas gurunya nir berkualitas, sasaran & target
pendidikan nir akan tercapai.
Statemen
ini telah dibuktikan Pemerintah Finlandia yg menerapkan rekrutmen calon
pengajar sangat ketat hingga mengantarkan negara ini berada paling tinggi dalam
bidang pendidikannya. Pelamar calon mahasiswa terbanyak merupakan pada fakultas
keguruan.
Makanya
energi pengajar pada sana adalah putra-putri terbaik bangsanya. Mereka bekerja
menjadi pendidik tidak direcoki banyak sekali urusan birokrasi. Sebaliknya
mereka menerima kebebasan berinovasi berdasarkan riset secara konstan.
Dalam
aneka macam lembaga pembinaan pengajar, saya sering memberikan kertas kepada
para peserta buat menuliskan nama pengajar dan sekolahnya yg telah memengaruhi
kualitas dan jalan hidup mereka. Siapakah pengajar-pengajar yg memberi ilham,
motivasi, dan teladan yg masih terkenang meskipun sudah belasan tahun nir
pernah berjumpa.
Setelah
dituliskan, mereka lalu aku minta
mengembangkan cerita di hadapan peserta. Dari sekian pengalaman memberi
training pengajar, guru-guru yang baik setidaknya mempunyai empat ciri.
Pertama,
mereka menguasai materi yg hendak diajarkan. Kedua, pandai menentukan metode yang sempurna agar mudah
dipahami anak didik serta tidak menjemukan. Ketiga, membangkitkan imajinasi
& motivasi anak didik buat berani bermimpi mengenai masa depan. Keempat,
mengajar menggunakan cinta.
Sewaktu
sebagai mahasiswa, aku pernah diajar
oleh seseorang dosen yang rajin membaca. Koleksi bukunya banyak. Namun saat
memberi kuliah, mahasiswa sulit memahaminya.
Mungkin
ini disebabkan miskin metode. Kurang kreatif dan terampil membuat hal-hal yg
rumit menjadi mudah tanpa kehilangan substansinya. Dia pintar buat diri
sendiri, namun kurang pandai memintarkan
mahasiswa.
Sebaliknya,
saya pernah bertemu dengan dosen yg bacaannya nir kaya, namun pandai meringkaskan berita yang sulit, lalu
mengembangkannya dengan model-contoh yg familier dalam kehidupan sehari-hari.
Tentu saja, dosen dan pengajar yang baik adalah yang menguasai keduanya.
Para
psikolog mengatakan, usia pelajar itu dianggap formative years. Masa
pembentukan eksklusif. Kalau dalam usia mereka menemukan lingkungan dan guru yg
cantik, yang mempunyai empat kriteria di atas, biasanya ketika masuk kuliah
mereka akan meraih prestasi yg bagus.
Berdasarkan
pengamatan saya di lingkungan Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta,
mahasiswa dan alumni yg prestasinya menonjol dan berhasil menempuh acara doktor
di universitas ternama pada dunia umumnya mereka datang menurut lingkungan
pendidikan yg indah. Bahkan banyak di antara mereka yang berasal menurut global
pesantren atau seperti boarding school.
Di
pesantren tumbuh budaya cinta ilmu & hayati sederhana dalam suasana
persaudaraan. Tak dikenal berantem antarsiswa. Ada suatu prinsip, attitude
above knowledge.
Para
murid begitu hormat dan santun kepada pengajar. Nilai & tradisi ini justru
sangat bertenaga berakar pada rakyat Jepang. Sementara kultur semacam ini waktu
ini semakin menurun pada lingkungan sekolah kita pada umumnya.
sumber : Gurudikmen.com
